Aditya's posts with tag: cerita
 | Ceritamu | May 11, '08 5:13 AM for everyone |
ceritamu malam ini, seperti menghukumku dalam lemari ketak berdayaanku. Kau bicara tentang sakit sedangkan aku tak bisa mengobatimu. Kuhanya bisa menyelimutimu dalam kata berharap ada sejuk yang bisa menyembuhkanmu.
Kuminta kau tidur, bukan untuk membuatmu berhenti bercerita. Tapi aku tak tahan mendengar sakitmu dan aku tak tahan dengan keterbatasanku. Kembali hanya kata
tidurlah dalam kata. Walau tak menyembuhkan.
Sebuah cerita Fiksi, tapi sangat menarik untuk disimak. Membuat kita merenung, tentang arti cinta yang sebenarnya... Tentang bagaimana cinta bisa hidup. Tentang bagaimana cinta berbicara
By: Erwin Arianto
Sebelum perkenalan dengannya Hidup ku sangat lah berjalan dengan baik, Aku Mempunyai keluarga, Sahabat, Karir, dan Cinta. Karena suatu pertemuan yang tidak sengaja dari sebuah Group milist dari internet.
Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari hobi ku chat dalam dunia maya, layar monitorku berkedip bertanda ada obrolan masuk disana, dan Ninien memanggilaku untuk melakuakan chat, kami bercerita berbagi pengalaman dengannya. Ya Ninien adalah sebuah nama yang tidak sengaja mengubah semua kehidupanku.
"Namaku Ninien¡Ä aku merantau ke Jakarta untuk menggapai mimpiku" begitulah Ninien mengawali percakapannya dengan ku, dia ternyata perantau dari Semarang, sebuah kota yang tenang untuk menggapai Mimpi di Jakarta.
Setelah lama berbagi mimpi dan berbincang lama pada dunia maya, Ninien memberiku no Hp "ini nomer Hp ku 081575412345.., No Hp Kamu berapa" dia menayakan No Hp Ku, "Tenang nanti aku telp kamu, aku tidak punya HP" Elakku, karena aku tidak gampang percaya memberi no HP ke sembarang orang.
Setelah Ninien, memberi no hp, aku pun menelponnya dengan menggunakan telp kantor, dari obrolan kami, saya mendapatkan Ninien adalah seorang yang lembut dan penuh perhatian.
Dari pembicaraan telp kami pun sepakat untuk dapat berjumpa / kopi idarat di bilangan Otista, Ninien bekerja di suatu bumn di Jakarta. Saat ini adalah bulan puasa, kami berjanji untuk buka puasa bersama.
Awal pertemuan ini aku hanya berniat tahu sosok Ninien, karena aku telah memiliki kekasih Wulan. Dan waktunya tiba kami berjumpa di tempat yang dijanjikan
Saat tiba di tempat janjian, sepulang kerja "Ninien ya" Tanya ku kepadanya karena kala itu aku banyak orang dan ada tidak ada orang yang mirip dengan foto yang diberikannya "Iya.. kamu Ridwan ya" dia bertanya balik kepadaku¡Ä dan mengaskan bahwa itu adalah aku.
"Kamu jatuh ya dari sepeda motormu¡Ä" Ninien mengawali perbincangan kami berbuka puasa bersama.." " iya nih tidak apa-apa Cuma lecet sedikit saja" kataku menjelaskan kepada Ninien. "Makanya cari pendamping dong, biar ada yang merawatnya" Ninien penuh perhatian dengan senyum yang lembut begitu mengguyur hati ini. Dan setelah selesai aku mengantarkan Ninien ke tempat kosnya. Dan tanpa sadar ku kecup kening Ninien. Dia pun memasang muka yang bingung.
"mas ini maksudnya apa¡Ä?" Ninien mengungkapkan kebingunganya itu. Akupun tidak berkata dan hanya tersenyum, setelah itu aku pun kembali pulang karena malam telah larut. Dan Semenjak itu kami sering berjanji berjumpa kembali, kami bagaikan dua orang kekakasih yang sempurna, walau terdapat bom waktu yang akan meledak, karena terdapat cinta segi empat dalam percintaan kami, dimana Ninien telah memiliki seorang kekasih di semarang bernama Heru, dan aku telah memliki kekasih pula yang telah aku lamar dan kami telah berjanji untuk menikah 3 bulan lagi, sebuah waktu yang singkat.
waktu malam takbiran, aku main ke tempat kos Ninien, "mas anterin aku belanja di Atrium senen ya" dan akupun pergi ke atrium senin untuk berbelanja keperluan hari rayanya, ternyata Ninien adalah wanita yang tanguh, dia dapat mengendari motorrku yang bisa di bilang adalah motor laki-laki. Dalam perjalanannya dia berkata "mas seandainya hubungan kita normal seperti banyak percintaan pada umumnya aku bahagia mas, tapi kita menjalani percintaan yang luar biasa, dan kamu telah memiliki Wulan disamping mu" dengan tangis air mata dia mengungkap kan itu. Dia telah tahu aku telah punya kekasih bernama wulan.
Kami juga suka melakukan hal-hal yang unik, karena itu begitu menyenagkan buat kami, seperti kami makan Ice Cream dari restoran A&W sambil berjalanan di mall, Ninien berlari sambil memeluku di jembatan itu, dimana banyak orang yang melihat, Setiap pagi hari aku ke tempat kos Ninien, Ninien selalu membuat kan teh dan aku mengantarkanya berangkat ke halte dan di halte sebelum berangkat aku sering mencium kening Ninien, sehingga banyak orang yang melihatya¡Ä hahaha¡Ä begitu indah saat itu¡Ä.
Aku dan Wulan telah menetapkan pernikahan kami, kurang lebih waktu dari pernikahan itu tinggal 3 bulan lagi. Hati ku pun semakin kacau, di satu sisi aku semakin mencintai Ninien, dan disisi lain keluarga ku, telah melamarkan aku dengan Wulan.
Aku menikmati setiap hari yang berlalu, dgn keberadaan ninien, semua hidupku penuh dengan warna baru, dimana aku mendapat suatu aroma baru dalam kehidupan ku, aroma ceria, penuh kejutan, seperti cinta anak remaja, berbeda dengan aroma cinta yang diberikan wulan untukku, dimana wulan selalu menuntuku untuk jadi dewasa, dimana itu bukan aku yang sebenarnya.
"Mas, Besok kita nonton di Kalibata yuk" ninin mengajaku untuk menonton film terbaru saat itu, "iya tapi kamu tunggu di bioskop ya, aku pulang antarkan wulan dulu" dengan wajah penuh senyum dan ikhlas dia menunggu di bioskop kalibata, untuk waktu yang cukup larut karena aku harus pulang mengantarkan wulan terlebih dahulu.
Setiap hari sepulang kerja aku ke kantor ninien, hanya untuk waktu 30 menit, Tiba-tiba Hp ku berdering, pertanda wulan telah menunggu ku di kantornya "Bang, ada dimana, kok lama banget" wulan menanyakan keadaanku, "iya aku sedikit lagi sampai di kantor kamu, tunggu ya" aku menjelaskan kepada wulan. Tapi setelah aku selesai telphone ninien berada di sampingku "sudah waktunya kamu pulang ya mas, aku engga mau kamu pulang mas" kata ninien merajuk. Dilemma dihati diantara dua cinta. "Maaf sayang, aku pulang dulu, aku mau jadi tukang ojek dulu, nanti malam aku kesini lagi ya" jelasku kepada nienien. Dan ninein tertunduk layu , sambil berlinang air mata.
"Oh tuhan aku menjalani dua cinta, aku mencintai ninien, tapi aku telah bertunangan dengan wulan, apa yang bisa aku lakukan..?, tanggal pernikahan kami telah ditetapkan, gedung telah dipesan, tapi hatikku telah beralih kepada ninien" itulah pertanyaan dalam diriku setiap hari, dan aku pun tersungkur bersujud kepada Allah mempertanyaakaan kedaan hati ini.
"mas liburan 4 hari aku mau pulang kesemarang, kamu mau aku bawain apa" ninien berkata kepadaku "apa saja, lumpia, atau bandeng lunak juga boleh" aku menjawab sekenanya. "mas kalau aku disemarang, tolong jangan telp aku siang ya, telp aku jam 9 keatas" dia memintaku, "kenapa nin" Tanya ku kepadanya. "Aku sedang bersama Heru, mungkin" katanya , "Heru orangnya cemburuan mas" dia kembali menjelaskan kepadaku. "Oke" sahutku lagi "Gila, dia disana dengan kekasihnya Heru, dan Aku disini dengan wulan, kisah cinta macam apa ini" Tanya ku kepada diriku sendiri.
Mengapa aku suka ninien adalah karena dia satu profesi dengan ku, dia seorang Akuntan sama seperti aku, sifatnya yang lembut, dan penurut berbeda dengan wulan yang selalu tegas, dan sedikit angkuh. "Oh tuhan apa yang akan terjadi nanti selalu" sebuah perntanyaan yang tidak pernah terjawab, dan rasa cintaku kepada ninien semakin bertambah, aku semakin mencintai dia.
" Mas Ridwan .. ada rencana nikah kapan" Tanya seorang kenalan dalam chat ku dengan seorang sahabat Mas Andik seorang kenalan ku dalam chat di dunia maya. "Mungkin Bulan Juni mas, tepatnya tanggal 5 juni" balasku kepada mas ridwan. "Mas, kamu kapan nikah bulan juni ya mas" Tanya ninien kepada ku, "Kata siapa" kataku mengelak, "aku baca log dari chat kamu mas" ninien mendesakku.
Ninien senang bernyanyi, dia menyanyikan lagu Naff, "akhirnya ku menemukan mu saat hati ini ¡Ä. Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku¡Ä dan biarkan diri ku mencintaimu hingga akhir hidupku" sebuah sair yang memilukan hatiku¡Ä ninien sangat menyukai Musik Jazz, Pernah suatu hari ketika suatu hari aku menonton Jazz Goes To Campus di UI,ketika itu Motor ku sedang mogok dan kutitipkan dirumah wulan. Dan aku sedang ke bengkel cuci steam motor untuk mencuci motor wulan. "mas temenin aku menonton JGTC ya" pinta ninien, "wah motor ku sedang mogok nien", "ayo dong mas, please¡Ä" pinta ninien kembali. "oke deh, tapi 30 menit lagi aku sampai Ui, tapi sampai jam 12.00ya,a ku haru ske tempat wulan", "ya mas sampai jam 13.30 ya" pinta ninien, "oke deh".
Dan aku sampai di UI, ternyata ninien bersama fauzan, sahabatnya, "Mas tolong anterin Mas fauzan ya", "iya sayang", setelah mengantar fauzan kembali ku jemput ninien, "Mas aku bawa motornya, aku mau coba motor matik dan mau tau UI mas" dan kami pun berkeliling UI, setelah itu aku menonton JGTC, "Nin, aku pulang dulu ya, aku harus ambil motor di rumah wulan, nanti malam aku kerumah kos kamu ya, kita nonton di Kalibata, ada film Bagus", "gila kamu mas, pagi sama wulan, siang sama aku, sore sama wulan, malam sama aku.." ninien menyindirku, dan aku hanya tersenyum.
"Bang lama banget, abis dari mana..?" wulan menanyakan prihal aku lama datang kembali kerumahnya. "Habis ke tempat dodi, jawabku" oh. Dan waktu telah menjelang maghrib "Aku pulang dulu ya cinta" kataku ke wulan. Wulan hanya mengangguk, dan setelah itu aku pacu motorku ke bilangan otista untuk menemui ninien. Ninien sedang mendapat telp dari Heru," mas Kamu diam dulu, heru sedang bicara ya" kata ninien kepada ku. "Dan kami melaju ke kalibata Mall, untuk menonton bioskop. Di sana kami tidak menonton film dengan penuh, karena kami menikmati pertemuan kami, dan kami bermemadu kasih di dalam gedung bioskop. Film pun usai. "Mas Ayo pulang, nanti aku di kunciin sama ibu kos' katanya. Ternyata benar dia di kunciin oleh ibu kosnya, dan dia menelphone sahabatnya satu kos irna untuk membukakan pintu. Sebelum pulang, sempat ku kecup bibir ninien, begitu lembut dan membuatku menitikan air mata, karena menjalankan kisah ini.
"Nien, aku besok tugas ke Tarakan 1 minggu, ucapku" ketika kami bertelphone, kami setiap hari selalu bertelphone, kerana menggunakan promosi sebuah selular CDMA, dan "kok bisa kebetulan aku harus tugas ke Makasar, untuk audit cabang sana" ya sudah 1 minggu ini kita tidak bertemu dulu ya nien" kata ku kepadanya. "mas waktu mu sudah dekatya, dan kita harus berpisah, kita selesaikan setalh kita pulang mas" katanya kepadaku.
"Ninien aku dah sampai di juata airport", kataku kepada ninien, disini hanya sebuah pulau kecil nien, kataku bercerita kepadanya. "Aku baru aja landing di Sam Ratu Langi, mas" ninien bercerita kepada ku, "Makasar adalah kota yang belum pernah aku datangi, aku hanya pernah singgah disana sebelum aku tiba melanjutkan ke manado, atau daerah kalimantan nien" Disini Bagus mas, suasana yang nyaman, aku nginap di pinggir pantai losari, pemandangan yang indah"
beberapa waktu ninien tidak bisa aku hubungi, aku telp tidak pernah diangakat.seminggu telah terlwatkan, kami telah kembali ke Jakarta, dan kami kembali bertemu Dia menyapa ku lewat senyumnya, senyum kerinduan yang akan memudar. Tak ada yang dapat memulai membuka kata antara kami. Seakan terkunci dengan rasa rindu yang kurasa belasan hari. Aku merasakan segala hangatnya menyatu dalam jiwaku seakan tak ingin mengakhiri ini dengan tangis. Dia sama sekali tak melihat perubahan raut wajahku. Dalam hembusan nafas, aku masih berdo'a. "ya Allah jangan ada air mata disini."
Sedikit terkejut ketika ia mulai membuka pembicaraan. "Mas, aku kangen banget sama kamu" Katanya lirih Dia bilang dia merindukan aku, aku tau dia tak membohongiku. Tatapan matanya.. aku paham bahasa matanya. Aku tak punya nyali untuk terus menatapnya, aku hanya tersenyum. Dan beralih tak lagi memandangnya. Ada rindu dimatanya rindu untukku.
"kita pergi kerumah tanteku ya nien, di daerah pondok gede" aku dan ninien sepakat untuk bolos kerja, hanya untuk bertemu, dan kupacu sepeda motor ku kerumah tante ku dibilangan lubang buaya, pondok gede, aku dititipkan kunci untuk menjaga rumah kosong tersebut. Setelah berbincang seadanya, kami pun terbawa suasana, kami memadu kasih bagai suami istri, dan pikiran kami, tubuh kami bersatu tanpa batas yang menghalangi dan tanpa sehelai benangpun membungkus tubuh kami. "mas kita sudah melewati batas mas" iya sayang, kalau terjadi sesuatu aku mau bertanggung jawab. Kataku.
Selepas dari rumah tante ku, aku mampir ke Tamini Square, kami menikmati makan disuatu restoran fast food, dan aku katakana "aku mencintai mu nien, dengan segala hatiku dan akan ku jaga sampai mati", "tapi kamu 2 minggu lagi akan menikah mas, dengan wulan" ninien menjawab, "Dan ketika ijab-kabul telah terucap maka aku tidak dapat mencintai mu lagi mas" ninin kembali berlinang air mata menjelaskan kepadaku. "Nien, biarkan takdir ini berjalan dahulu, biarkan aku menikah dengan wulan dahulu, bila sudah waktunya, aku akan menikahi kamu nien" aku mencoba menjelaskan kepada ninien.
Semakin dekat pernikahan, hatiku semakin kacau, dan ninien semakin menjauh dari ku, tetapi hati ini tidak bisa dipungkiri, aku telah mencintai ninien dengan segenap aku, apa lagi kami telah melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan.
4 hari sebelum pernikahan ku, aku menemui kembali ninien, nien, aku tau kok, hari ini akan jadi hari penentuan tentang hubungan kamu dan aku kan?" Kataku dengan halus dan terus memegang erat tangan nya.
"Iya, mas. Kita udah sama-sama janji sepulangnya kita dari tugas juta kita bakal nyelesain masalah kita." Jawabku tanpa menatapnya. Entahlah aku tak punya nyali tuk sekedar menatapnya.
"nien, kita kabur saja, kita kawin lari saja" kata ku mengajaknya, "mas maaf aku tidak bisa, nanti kehidupan kita gimana" tanyanya. "kita mulai dari nol, kalaupun harus meninggalkan kehidupan ku kini aku rela kok, walau harus jadi Pemulung aku mau, asal hidup bersama kamu"
"Nien, aku tidak tau harus ngomong apalagi ke Kamu. karena takdir aku ninggalin kamu, ngga ada yang bisa gantiin kamu dalam hati aku nien. Harusnya aku yang bilang kalo Aku yang cuma bisanya nyakitin hati kamu setiap saat, yang cuma bisa ngasih mimpi buruk dalam setiap tidur kamu, yang cuma bisa nyiptain tangisan dimata kamu yang penuh cinta. Aku yakin kamu bisa jauh bahagia tanpa aku." Ucapnku dengan mata sedikit memerah. Da kuberikan kaos biru yang kupakai untuk dia. Dan kuantar dia ke kantornya dengan kecup perpisahan. Yang ternyata itu adalah pertemuan terakhirku denganya. namun aku tak ingin merasakannya lagi karena bagiku hari ini akan menjadi penentuan segala arah dalam langkah ku yang dulu sempat aku habiskan bersamnya.
Dan takdir tidak bisa terelakan, aku menikah dengan wulan, dengan pesta yang cukup meriah, dengan tamu yang cukup bayak, tetapi hati ini menangis. Setelah itu aku tidak pernah bisa menghubungi ninien kembali.
Tapi aku tetap tidak putus asa, aku mencoba mendatanginya ke kantornya menjauh, dan dia bersama seorang lelaku lain bernama Ramlan, "mas kamu sudah nikah, kamu bukan mas ku yang dulu aku cintai lagi" ninien berkata lirih kepaku. Kehidupan ku dengan wulan berjalan dengan sangta sempurna, tapi hati ini terus tertuju kepada ninien. Pikiran ini hidup ini kosong tanpa dia, aku terlalu mencintai dia, dan selalu terpikir apakah hidup ini dipilih atau memilih.
"Turut berduka cita ya, mba wulan" tetanggaku menyalami wulan yang berlinang air mata, disamping wulan terdapat sesok mayat yang telah di bungkus dengan kain kafan, dan kulihat jasad ku sudah di kafankan.
Entah siapa yang memberi tahu ninien, dia datang ke pemakaman ku, "mas kenapa kamu seperti ini, kenapa mengakhiri hidup mu penuh teragis mas, aku tau kamu mencintaiku, aku tau mas, aku juga mencintai mu" dan kulihat ninien menangis dengan tersedu. "aku juga selalu mencintaimu nien, kan kujaga cinta ini walau jasadku telah tiada dan hati ini selalu untuk mu seorang bidadariku" tetapi nienin tidak dapat mendengarku lagi. Dan malaikat mautlah yang kini meminta pertanggung jawaban tindakan ku ini. "Tapi ini kulakukan karena Aku terlalu mencintaimu nien."
"Cinta itu indah, tetapi terkadang menyakitkan"
Cerita ini adalah fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, pristiwa, adalah tidak disengaja,
= Depok 8 February 2008 =
HARI INI AKU BERTANYA TENTANG AKU Hari ini aku bertanya tentang ku. Siapapun aku. Meski kadang untuk bertanya tentang tentang aku,aku sendiri sering lupa. Padahal,bertanya tentang diri sendiri adalah bertanya tentang sesuatu yang paling substansial sepanjang sejarah kehidupan manusia. Secara umum,urusan bertanya-tanya sepertinya memang mudah,tampak sederhana. Tinggal membuat daftar pertanyaan dan mencari jawabannya. Tapi bila sudah bertanya tentang diri sendiri,rupanya urusannya bisa lain. Sebab ada bias-bias disana.Sejujurnya itu juga terjadi pada diriku. Sejenak aku seperti tersadar,sebelum bicara tentang apa yang akan aku tanyakan pada diriku,hari ini,nampaknya aku terlebih dahulu harus bertanya,apakah memang aku mau bertanya tentang aku sendiri,hari ini? Seperti dalam kaidah sosial yang umum,memegang kendali dan otoritas itu seperti pisau bermata dua. Bila aku menggunakannya dengan baik,maka otoritas dan kendali itu akan berdayaguna.Bila aku bermalas-malas,tak bergairah,maka kendali itu,otoritas itu,tidak akan menghasilkan apa-apa. Jadi? Aku yang diberi kesiapan,kebiasaan,dan pilihan,untuk menjadi baik atau buruk,secara sukarela,ternyata semua itu bisa menjadi kekuatan,bisa juga menjadi kelemahan. Seperti itu pula bila aku bertanya tentang diriku. Aku bisa saja bertanya,bisa juga tidak mau. Semuanya terserah pada diriku sendiri. Ini kekuatan,tapi juga kelemahan. Itu sudah terbukti pada diriku. Kadang aku - dengan karunia Allah- bisa memacu kemauanku sedemikian rupa. Hari-hariku seperti tak pernah henti dari aktifitas. Malam seperti siang, ada saja yang aku harus selesaikan. Meski kadang agak carut-marut secara tertib dan urutan. Tapi aku masih bisa menghibur diri,bahwa kelelahan itu aku mohonkan balasannya kepada Allah. Tapi sering juga aku merasa sangat malas. Bahkan untuk melakukan aktifitas rutin yang menjadi tanggung jawabku sebagai Muslim, kadang aku seperti tak bisa. Bukan benar-benar tak bisa,tapi tak berdenyut dan tak bergairah. Kaki seperti berat untuk diayun. Mata seperti layu selalu diajak untuk terjaga. Jadi?,Ya,itu tadi,adanya porsi yang diberikan Allah pada diriku untuk mengatur diriku sendiri,ternyata membuatku bisa malah lepas berkarya, tapi bisa juga malah tak berbuat apa-apa. Kadang-kadang manusia memang perlu pihak lain untuk memaksa. Bila aku bertanya pada diriku,hari ini,tentang apa yang telah aku lakukan,apa yang akan aku lakukan, dan apa yang belum aku lakukan,maka aku akan mengerti betapa tidak sederhana urusan seorang diriku. Tidak sederhana, bukan berarti segalanya menjadi penuh kekacauan,pesimisme, dan ketidakjelasan. Tidak selalu seperti itu maksudnya. Sebab bahagia sekalipun,atau sukses,prestasi, banyak yang lahir dari jalan hidup yang kompleks. Maka ada tangis duka, ada juga tangis bahagia. Urusan diriku tidak sederhana. Bila hari ini aku bertanya tentang apa yang telah aku lakukan, aku akan mendapati ternyata keburukanku lebih banyak dari kebaikanku. Untuk mengakui itu sendiri tidaklah mudah. Ada hal-hal yang tersembunyi, yang hanya aku dan Allah yang tahu. Semoga Allah menutupi aib-aib diriku,didunia dan akhirat. Bila aku bertanya tentang apa yang belum aku lakukan, aku mendapati ternyata masih sangat banyak yang belum aku perbuat. Capaian apapun yang telah aku aku dapati sampai hari ini memang harus aku syukuri. Seperti hidup hingga sejauh ini, itu pasti harus aku syukuri. Juga apa yang telah dibagi Allah untuk diriku. Setidaknya aku masih bisa makan dan minum hingga hari ini. Juga adanya orang-orang dekat yang aku cintai, berapapun jumlah mereka, juga teman-teman yang jujur,ilmu, kesadaran, pengalaman pahit dan manis, semua memangharus aku syukuri. Tapi bila aku harus bertanya tentang apa yang belum aku lakukan, sejujurnya masih sangat banyak. Apa yang belum lakukan, nyaris sebanding dengan apa yang sebenarnya bisa aku lakukan, bisa aku berikan, bisa aku kontribusikan, tetapi aku belum melakukannya. Sebab bila Allah menyebutkan dengan istilah 'batas kekuatan' sebagai ukuran yang dipakai untuk memberikan beban kepada hamba-Nya, nyatanya aku sendiri tidak pernah tahu secara pasti berapa ukuran batas kekuatanku. Memang aku pernah sakit karena habis bekerja keras. Tapi itu sendiri belum tentu merupakan tanda bahwa batas kekuatanku sampai disitu. Sebab aku juga pernah bekerja lebih keras dari itu, dan Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Sebagaimana juga aku merasa sangat cengeng, hanya karena sedikit begadang untuk mengejar tugas, tiba-tiba aku sudah ambruk.Aku kemudian tahu, bahwa batas "batas kekuatanku" itu sebenarnya relatif. Tentu saja ini bukan sekadar dalam soal tanggung jawab standar. Seperti tanggung jawab sebagai seorang Muslim dengan kewajiban-kewajiban dasar sebagai seorang muslim. Tapi juga apa yang seharusnya lebih dari itu. Bila aku tak bisa cukup dengan apa adanya, mestinya aku juga tidak hanya memberi apa adanya. Selalu ada harga untuk setiap nilai lebih. Harga yang aku dapatkan, dan harga yang harus aku berikan. Namun, kadang orang tidak mau membayar harga itu secara semestinya. Bila aku bertanya tentang apa yang ingin aku lakukan, itu nyaris sebanding dengan gabungan antara harapan dan khayalan. Kadang batas antara keduanya sangat tipis. Kadang aku merasa seperti sedang berharap, tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa ternyata waktu itu aku sedang menghayal. Tapi tidak jarang juga aku merasa seperti sedang menghayal, ternyata Allah mengubahnya menjadi sebuah harapan yang menjadi nyata, Hidup memang penuh dengan tanda tanya. Namun perlahan aku juga mengerti, tanda tanya dan ketidakpastian itum ternyata memberi seorang mukmin ruang kebergantungan yang sangat tinggi kepada Allah. Dan, disitu ternya ada ketenangan luar biasa. Pada akhirnya,aku bersyukur, dalam batas yang lumayan jauh, setidaknya aku mengerti bahwa ke-aku-an diriku ternyata terletak pada tanggung jawab. Sejujurnya, memang, pendalamanku tentang "ilmu tanggung jawab"ini kadang pasang surut. Itu membuat diriku tidak setiap saat selalu "on" dengan rasa itu. Tapi setidaknya sampai hari ini aku bersyukur, dan aku memohon kepada Allah,seterusnya, hingga akhir hayat kelak, aku selalu sadar tentang sebuah kenyataan, baha seorang aku adalah segunung tanggung jawab. Walaupun seringkali aku merasa tanggung jawab lebih merupakan beban yang memberatkan, aku terus belajar untuk melihat kata tanggung jawab sebagai sebuah jalan keterhormatan, rasa berarti, dan semangat untuk berbagi dengan sesama. Aku juga belajar dari agama Islam yang aku cintai, bahwa ke-aku-an yang bermakna tanggung jawab itu, punya alur dasar yang sangat tersembunyi. Banyak yang tidak sadar, atau tidak tahu. Atau kalau tahu, banyak yang lupa. Termasuk diriku, tidak jarang juga lupa. Alur dasar itu adalah, bahwa tanggung jawab itu dimulai pertama kali dari niat. Ya. Kata Rasullullah,"Sesungguhnya setiap amal itu dinilai dari niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang diniatkannya". Jadi? Rupanya ini menjadi semacam checklist harian tanpa kertas dan tanpa pena. Ia ada dihatiku dan dihati siapa saja. Bahwa sejenak ketika aku akan berkehendak, maka di jenak itu pula aku harusnya bertanya tentang niatan-niatan dibalik kehendak itu. Bisa baik bisa buruk, bisa salah bisa benar. Rupanya tidak selamanya benar ucapan orang yang sering dengan tampak tulus berkata "tanpa maksud apa-apa", atau "saya tak berniat apa-apa". Berarti hari ini aku harus bertanya, bagaimana kabar hatiku hari ini. Bila bertanya tentang diri sendiri emnghasilkan rasa tanggung jawab, maka aku bertanya tentang diri sendiri, seharusnya sering aku lakukan. Diantara jejaring kehidupan yang tidak sederhana, juga lalulintas masalah yang padat dalam antrian, aku seharusnya bertanya dijalan mana aku menuju, dan hendak kemana aku bermau. Begitupun, aku harus juga belajar bertanya tentang aku kemarin. Tidak saja aku hari ini. Bukan untuk tenggelam dengan apa yang tidak bisa aku ulang karena sudah kadung dan mati ditelan masa lalu. Tapi sebuah langkah berkesinambungan untuk menjadikan masa lalu sebagai cermin. Bila kemasa depan aku belajar tentang tantangan. Maka dari masa lalu aku harus belajar tentang kearifan. Bila seorang aku berarti sebuah tanggung jawab, aku mungkin perlahan akan mengerti, bahwa dari unsur tanggung jawab itu, aku bisa belajar tentang seri lanjutannya.. Ialah bahwa dari tanggung jawab akan lahir kejujuran. Aku mungkin belum sempurna, dan tidak akan sempurna, tapi sedikit banyak aku belajar tentang tanggung jawab yang melahirkan kejujuran. Atau setidaknya aku bisa merasakannya, bila aku takut untuk berbuat sesuatu yang buruk, rasa takut itu akan mendorongku untuk lantas berlaku jujur. Rumusnya memang sederhana. Tanggung jawab adalah ibu kandung kejujuran. Setelah itu, aku berharap, aku bisa belajar seri lanjutannya, bahwa bila aku jujur, semoga lantas aku bisa konsisten. Atau bahasa lainnya adalah istiqomah. Aku melihatnya sebagai sebuah rumus yang juga sederhana, bila aku berbuat sesuatu secara jujur, aku yakin aku akan punya energi untuk terus melanjutkan perbuatan itu, atau pekerjaan itu, terus dan terus. Sebab tak ada yang harus aku takutkan. Sebagaimana tak ada alasan untuk menghentikan kebahagiaan yang aku rasakan bila aku jujur. Jadi? Tanggung jawab itu berlanjut pada kejujuran. Dan kejujuran itu berlanjut pada konsistensi dan kesinambungan. Dalam apa saja. Bila bertanggung jawab adalah niatnya, kekuatannya, maka kejujuran adalah bingkainya, bentuk perilakunya, dan wujud lahirnya. Lalu konsistensi adalah nafas panjangnya. Diatas jalan itu semoga aku bisa berlalu dan menuju. tarbawi:Edisi 168 Th.8,Dzulqa'idah 1428 H,7 Desember 2007
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut. Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku. Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis. Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini. Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Note: I luv U Mom
| |