Aditya's posts with tag: cinta

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cinta
Blog EntryBicara Dengan Bahasa HatiMar 31, '08 7:59 PM
for everyone
Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.

Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak anda,
namun juga betapa lembut hati anda dalam menjalani segala sesuatunya.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan
merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai
gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan
detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada keberhasilan
anda

Blog EntryBenih CintaMar 31, '08 7:56 PM
for everyone
Cinta perlu dipupuk

Supaya terus bertumbuh
Menjadi indah, dan tak layu

Jadi, benih cinta sebaik apapun

Tanpa perawatan, lama-lama akan menjadi layu
Akan menjadi mati

Sepasang kekasih, yang saling mengungkapkan cinta
Tanpa menjaga dan memupuk
Dan mempunyai anggapan,

"Kenapa mesti merawat cinta, toh dia mencintaiku. Aku tahu itu. Aku tahu dia
juga mencintaiku. Apa itu masih kurang?"

Seringkali orang merasa dirinya sudah terlalu mengenal pasangannya, hanya
karena berdasarkan benih cinta yang lalu. Yang sudah ditebarkan. Tetapi yang
seringkali dilupakan adalah, di mana benih itu ditebarkan.

Benih yang ditebarkan, bisa jatuh di pinggir jalan, jatuh di tanah yang
berbatu-batu, di tengah semak berduri, maupun jatuh di tanah yang baik dan
subur.

Kenalilah di mana benih jatuh, kemudian rawat dan jagalah agar terus tumbuh
menjadi indah.

Blog EntryPohon, Daun dan AnginMar 31, '08 4:55 AM
for everyone
POHON

Alasan mengapa orang-orang memanggilku "Pohon" karena aku sangat baik dalam
menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi
kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak
5 orang wanita ketika aku masih di SMA. Ada satu wanita yang aku sangat aku
cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya.

Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dsb, dia sangat
peduli dengan orang lain dan religius tapi dia hanya wanita biasa saja. Aku
menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa
adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.

Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa
dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan
yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip-gosip yang ada akan
menyakitinya. Aku merasa dia adalah "sahabatku" dan aku akan memilikinya
tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan
selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis-gadis lain, dan aku telah
membuatnya menangis selama 3 tahun.

Ketika aku mencium pacarku yan kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya
tersenyum dengan berwajah merah dan berkata "lanjutkan saja" dan setelah itu
pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak .. dan merah.

Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, tapi aku
tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di
kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan
sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis
selama sejam-an.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang
dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih
tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air
mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi
meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku
seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu bahwa dia sangat sedih
dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia,
aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5, aku mengajaknya pergi. Setelah
kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan
padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu
yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku
dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan
dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria
yang baik, penuh energi dan menarik.

Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatinya aku, tapi hanya bisa
tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, sakit
hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang
sangat berat didadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak
bisa.

Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya
menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. Ketika upacara kelulusan,
aku membaca SMS di Handphoneku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku
sedih dan menangis. SMS itu berbunyi, "Daun terbang karena Angin bertiup
atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?".


DAUN

Selama SMA, aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa?

Karena aku merasa bahwa daun untuk meninggalkan pohon yang selama ini
ditinggali selama ini membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 thn di SMA, aku dekat dengan seorang pria, bukan sebagai pacar tapi
"Sahabat". Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, Aku
mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya -
CEMBURU. Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan
Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2
bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa
gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

Aku menyukainya dan aku tahu bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia
tidak mau mengatakannya? Sejak dia mencintaiku, mengapa dia tidak yang
memulainya dulu untuk melangkah?

Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku selalu sakit. Waktu berjalan dan
berjalan, hatiku sakit. Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang
bertepuk sebelah tangan, tapi mengapa dia memperlakukanku dengan sangat baik
diluar perlakuannya hanya untuk seorang teman?

Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati, aku tahu kesukaannya,
kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau
tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan?

Diluar itu, aku mau tetap disampingnya, memberinya perhatian, menemaninya,
dan mencintainya. Berharap, bahwa suatu hari, dia akan datang dan
mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telphonenya setiap malam,
mengharapkannya untuk mengirimku SMS. Aku tahu sesibuk apapun dia, dia pasti
meluangkan waktunya untukku. Karena itu, aku menunggunya. 3 tahun cukup
berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tatap
menunggu. Luka dan Sakit hati, dan dilema yang menemaniku selama 3 tahun
ini.

Ketika diakhir tahun ke 3, seorang pria mengejarku dia adalah adik kelasku,
setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Dari penolakan-penolakan yang telah
ditunjukkan, aku merasa bahwa aku ingin memberikan dia ruang kecil dihatiku.

Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang
dari pohon. Akhirnya, aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan Angin ini
ruang yang kecil di hatiku.

Aku tau Angin ini akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang
lebih baik. Akhirnya Aku meninggalkan Pohon, tapi Pohon hanya tersenyum dan
tidak memintaku untuk tinggal, aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke
arahku.

"Daun terbang karena Angin bertiup atau Pohon tidak memintanya untuk
tinggal"


ANGIN

Karena aku menyukai seorang gadis bernama Daun, karena dia sangat bergantung
pada Pohon, jadi aku harus menjadi Angin yang kuat.

Angin akan meniup Daun terbang jauh. Ketika aku pertama kalinya, ketika 1
bulan setelah aku pindah sekolah. Aku melihat seorang memperhatikan kami
bermain sepakbola. Ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan
teman-temannya memperhatikan Pohon. Ketika Pohon berbicara dengan
gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada
senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang
suka melihat Pohon. Satu hari, dia tidak tampak, aku merasakan kehilangan.

Seniorku juga tidak ada saat itu, Aku pergi ke kelas mereka, melihat
seniorku sedang memperhatikan daun. Air mata mengalir di mata daun ketika
Pohon pergi, besoknya, aku melihat Daun di tempatnya yang biasa,
memperhatikan Pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Menulis catatan
dan memberikan kepadanya. Dia sangat kaget.

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima catatanku. Besoknya, dia
datang, menghampiriku dan memberiku catatan. Hati Daun sangat kuat dan Angin
tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan
Pohon. Aku melihat ke arahnya dengan kata-kata tersebut dan pelan dia mulai
berkata padaku dan menerima kehadiranku dan telpku.

Aku tahu orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu
hari dia menyukai aku. Selama 4 bulan, Aku telah mengucapkan kata Cinta
tidak kurang dari 20x kepadanya. Setiap kali dia mengalihkan pembicaraan ..
tapi aku tidak menyerah, aku memutuskan untuk memiliki dia dan berharap dia
akan setuju menjadi pacarku. Aku bertanya,"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau
tidak pernah membalas?", dia berkata, "Aku menengadahkan kepalaku".

"Ah?" Aku tidak percaya apa yang aku dengar.

"Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak.

Aku meletakkan telp, berpakaian dan naik taxi ke tempat dia, dan dia membuka
pintu, aku memeluknya kuat-kuat.

"Daun terbang karena tiupan Angin atau karena Pohon tidak memintanya untuk
tinggal".

Blog EntryKehadiranMar 30, '08 9:08 PM
for everyone
Seorang laki-laki pergi ke luar negeri untuk bekerja dan meninggalkan gadis
tunangannya tersedu-sedu.

"Jangan khawatir, aku akan menulis surat untukmu setiap hari", katanya.

Selama bertahun-tahun laki-laki itu memang menulis surat untuk tunangannya.
Tetapi karena dia senang dengan pekerjaannya, dia tidak merencanakan untuk
pulang dalam waktu dekat.

Suatu hari, dia menerima undangan pernikahan. Ternyata kekasihnya akan
segera menikah. Dengan siapa ? Dengan tukang pos yang tiap hari mengantar
surat yang dia tulis. Jarak pemisah telah membuat hati berubah.

Lelaki malang itu merenung, "Lho, apa salahku. Aku mengiriminya surat-surat,
coklat, dan bahkan bunga-bunga".

Ketika dalam suatu hubungan terjadi masalah, daftar barang-barang yang telah
diberikan atau hal-hal yang telah dilakukan untuk seseorang, akan tiba-tiba
muncul untuk dipermasalahkan.

Kita akan berkata "Saya telah memberimu ini dan itu... Saya telah melakukan
semuanya demi kamu".

Tampaknya cinta dapat dibuktikan secara mudah hanya dengan pemberian
hadiah-hadiah dan perbuatan baik.

Namun, walaupun hadiah-hadiah itu penting juga, cinta memerlukan hal yang
mendasar: KEHADIRAN. Kehadiran sang kekasih, kehadiran orang yang dicintai.
Pengamatan saya terhadap anggrek ibu saya dapat dijadikan contoh. Saat ibu
saya pergi agak lama, bunga-bunga itu tampak tak subur dan banyak
diantaranya yang layu. Tapi saat ia kembali hadir, bunga-bunga itu mekar
dengan indahnya. Padahal ibu saya tidak melakukan hal-hal yang luar biasa.
Ia hanya memberikan banyak waktunya untuk berbicara dan merawat mereka.

Saya kira, orang lebih memerlukan kehadiran perhatian dan kepedulian. Cinta
secara fundamental adalah sebuah komitmen terhadap seseorang. Kita dapat
mempunyai komitmen terhadap bisnis, pekerjaan, hobi, olahraga, maupun
keanggotaan di klub, tetapi dapat dikatakan dengan tegas: semua itu tidak
dapat mencintai kita.

Hanya orang lain yang dapat membalas cinta kita, dan untuk itu, komitmen
tertinggi sebagai manusia adalah memberikan waktu kita dengan orang yang
kita cintai. Dan karena manusia
memerlukan kasih sayang dan makanan, hadiah-hadiah material hanya dapat -
secara terbatas - membantu untuk mengembangkan cinta. Tapi itu semua tidak
dapat menggantikan kehadiran pribadi, yang merupakan hadiah terbesar!

Martha sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dia yakin harus bekerja keras,
karena ia mencintai ayahnya yang sedang sakit kanker. Dia harus membeli
obat-oabatan yang mahal. Saudara-saudaranya yang lain tetap tinggal dengan
ayah mereka hampir setiap saat. Mereka memandikannya, bernyanyi untuknya,
menyuapi makan, ataupun sekedar menemani sang ayah

Suatu hari Martha sakit hati. Dia mendengar sang ayah berkata kepada ibunya,
"Semua anak-anak kita mencintaiku kecuali Martha".
"Bagaimana mungkin?", pikir Martha.

"Bukankah aku yang bekerja mati-matian untuk mendapatkan uang guna membeli
semua obat-obatan? Saudara-saudaraku bahkan tidak berbagi sebesar yang aku
berikan".

Suatu hari, Martha pulang larut malam seperti biasanya. Dia mengintip untuk
pertama kalinya, ke dalam kamar di mana ayahnya berbaring. Dia melihat
ayahnya masih terjaga, maka dia memutuskan untuk datang mendekat di samping
tempat tidur ayahnya. Ayahnya memegang kedua tangan Martha dan berkata, "Aku
merindukanmu. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tinggalah dan temani
aku".

Dan itu yang ia lakukan, semalaman ia tinggal menemani ayahnya, berpegang,
menggenggam tangannya.

Pagi harinya martha berkata pada semua orang, "Aku mengambil cuti. Aku ingin
menemani Ayah. Mulai saat ini aku akan memandikan dan bernyanyi untuknya".

Sebuah senyum bahagia muncul menghias wajah ayahnya. Kali ini ia tahu Martha
mencintainya.

** Seorang anak kecil memerlukan kehadiran orang-orang yang kita cintai.
Orang dewasapun memerlukannya **




Important Than Presents

A man going abroad to work leaves his fiancee crying. "Don't worry, I will
write you everyday," he said. For years he did write her.

But since he was happy with his job, he had no immediate plans of going
home.

One day, he received a wedding invitation. His girl friend was scheduled to
be married. To whom? To the mailman bringing regularly the letters of her
boy friend! Indeed, distance does make hearts flounder.

The poor boyfriend surely explained, "What went wrong? I sent her letters,
chocolates, and flowers."

When relationships go wrong, the list of things given and done for the
person usually crops up. We say, "I have given you this and that...I have
done these things for you."

It seems that love is simply proven by the bestowal of gifts and favors.

But while presents are important, love demands what is basic: presence of
the beloved. I have observed for instance, the orchids of my mother. When
she's away for a long time, they are unhealthy and many of them wither. But
when she is around, they bloom with beautiful
flowers. My mother does nothing exceptional. She just spends much time
talking and caressing them.

I guess persons all the more require a caring presence. Love is
fundamentally a commitment to a person. We may be committed to our business,
job, hobby, sports and clubs, but strictly speaking, they cannot love us
back. Only a person can love us in return, and for that matter the highest
commitment as human beings is spending time with those persons we love. And
since people need affection and nourishment, material things can only help
up to a certain degree in fostering love. But it can never replace the
greatest gift of presence.

Martha was busy with her job. She believed she had to work harder because
she loves her father who is sick of cancer. She has to provide for his
expensive medicines. Her brothers and sisters meanwhile stayed with their
father most of the time. They bathed him, sang for him, spoon-fed him or
simply kept him company.

One day Martha was hurt. She overheard her father telling her mother, "All
our children love me except Martha."

"How can this be?"

Martha thought. "Am I not the one killing myself in my work to have money to
buy for his medicines? My brothers and sisters do not even provide their
share in the expenses as much as I do."

One night, as Martha was as usual late in going home, she peeped for the
first time in the room where her father was lying. She noticed that her
father was still awake. She decided to come close at his bedside.

Her father held her hands and said, "I miss you. I don't have much time.
Stay with me."

And she stayed with her father holding his hand the whole night.

The next morning Martha said to everybody, "I have taken a leave of absence.
I would like to be with father. I will bathe him and sing for him from now
on."

Her father had a beautiful smile. He knew this time Martha loves him.

* As children, we need the assuring presence of our loved ones. Adult people
need no less. *

Shared by Joe Gatuslao - Philippines

ReviewReviewReviewReviewReviewSebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku.Mar 28, '08 4:29 AM
for everyone
Category:Other
Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
didepan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku
untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah
kami.

Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat
bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening.
Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk
menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih
diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami
berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang
bersamaan.

Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia.
Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak
kusangka-sangka.

Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yang cerah.

Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi
terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan
untuknya.

Dew berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis."

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru
menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitusukses, akan menjadi
sangat menarik bagi para gadis."

Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalo aku telah
menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan
tangan Dew dan berkata,
"Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan
dikantor"

Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.
Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku
walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk
membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti
akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang baik. Setiap
malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.

Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan
bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yang
akan kau lakukan? "

Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia
percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari ia. Aku tidak
bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jikatahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha
untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan
sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku
membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita
akan hidup bersama."

Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi.

Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,"Ada
sesuatu yang harus kukatakan"

Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka
dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku
terus berpikir.

"Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara
lembut,"kenapa?"

"Aku serius."

Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia
melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki-laki!".

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu
kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku
tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi
oleh Dew.

Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana
istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia
memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan
sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang
menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan
apa yang telah kuucapkan.

Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak
pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan
untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan
sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat
ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku
terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali.

Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun
dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan
dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan
pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak
kami melihat kehancuran rumah tangga kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu
masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan
kita?"

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku
mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya,

"Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada
waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi
kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu."

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah
yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana
romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia
tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia
lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh.

Kata-katanya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan
perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku
membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali"

Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu
ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan
mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,jangan
memberitahukan pada anak kita."

Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi
menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami
begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari
bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku
melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya.

Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar,
hati-hati kalau kamu lewat sana."

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra
seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti,
dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus
hati-hati saat memasak,dll.
Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.

Aku tidak memberitahu Dew tentang ini.

Aku merasa begitu ringan membopongnya.Berharap setiap hari pergi ke kantor
bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"Kelihatannya tidaklah
sulit membopongmu sekarang"

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok.

Lalu ia melihat,"Semua pakaianku kebesaran".

Aku tersenyum.Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu
sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin
kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku
merasakan perasaan sakit

Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut.

"Pa,sudah waktunya membopong mama keluar"

Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan
berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku
berharap kamu akan membopongku sampaikita tua".

Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak
menyadaribahwa kehidupan kita begitu mesra".

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut
keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga.

Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai.
Aku serius".

Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku.

"Kamu tidak demam".

Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf
padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan
disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan
disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku
membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu"

Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan
menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati
sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan?

Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita
tua.."


ReviewReviewReviewReviewReviewJangan Tunggu Esok Hari Mengatakan KepadanyaMar 25, '08 6:12 AM
for everyone
Category:Other
Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 th.

Ketika saya sedang bermain di halaman rumah saya di California, saya bertemu
seorang anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda
saya dan kemudian saya mengejarnya dan memukulnya.

Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu dan
saling memukul satu sama lain di batas pagar itu.

Tapi itu tidaklah lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu
bersama. Saya menceritakan semua rahasia saya.

Dia sangat pendiam... dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan.

Saya menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara kepadanya
tentang apa saja.

Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami pulang
kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di sekolah.

Suatu hari,saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya sukai
tetapi telah menyakiti hati saya.... Dia menghibur saya dan mengatakan
segalanya akan beres.

Dia memberikan kata-kata yang mendukung dan membantu saya untuk
melupakannya.

Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya tahu
bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya suka.

Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa
persahabatan.

Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja saya
berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati, saya tahu
bahwa ada sesuatu yang lain.

Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri,
sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya.

Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk
mengatakannya.

Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki tapi saya hanya duduk
di sana dan memandangi bintang bersamanya dan bercakap-cakap tentang
cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan mendengarkan ia bercerita
tentang impiannya. Bagaimana dia ingin menikah dan sebagainya. Dia bercerita
bagaimana dia ingin menjadi orang kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan
hanya menceritakan impian saya dan duduk dekat dengan dia.

Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan perasaan
saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya sangat
mencintainya tapi saya takut.

Saya membiarkan perasaan itu pergi dan berkata kepada diri saya sendiri
bahwa suatu hari saya akan mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya.

Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia selalu
bersama-sama dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan pekerjaan di
New York. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat yang sama saya sangat
bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih karena saya menyadari ia pergi
untuk pekerjaan besarnya. Jadi... saya menyimpan perasaan saya untuk diri
saya sendiri dan melihatnya pergi dengan pesawat.

Saya menangis ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini adalah
saat terakhir.

Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis.

Saya merasa terluka karena saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.

Saya memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi seorang
analis komputer.

Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu hari saya menerima undangan
pernikahan.

Undangan itu darinya. Saya bahagia dan sedih pada saat yang bersamaan.

Sekarang saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan kami hanya bisa
menjadi teman. Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan berikutnya. Itu
adalah sebuah peristiwa besar.

Saya bertemu dengan pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya.

Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak
mengacaukan apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi mereka.

Saya mencoba bersenang-senang malam itu, tapi sangat menyakitkan hati
melihat dia begitu bahagia dan saya mencoba untuk bahagia menutupi air mata
kesedihan yang ada di hati saya.

Saya meninggalkan New York merasa bahwa saya telah melakukan hal yang tepat.
Sebelum saya berangkat... tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan salam
perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan saya.

Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di New York.

Kehidupan saya harus terus berjalan.

Tahun-tahun berlalu... kami saling menulis surat dan bercerita mengenai
segala hal yang terjadi dan bagaimana dia merindukan untuk berbicara dengan
saya.

Pada suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat
kuatir mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah menulis 6
surat kepadanya..

Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima sebuah catatan
kecil yang mengatakan : "Temui saya di pagar dimana kita biasa
bercakap-cakap"

Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia melihatnya
tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan sampai kami
kesulitan untuk bernafas.

Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa dia
tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak dapat
menangis lagi... Akhirnya kami kembali ke rumah dan bercerita dan tertawa
tentang apa yang telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi, saya tetap
tidak dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya kepadanya.

Hari-hari berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan
perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia
kembali ke New York, saya menemuinya dan menangis. Saya benci melihatnya
harus pergi. Dia berjanji untuk menemui saya setiap kali dia mendapat libur.

Saya tak dapat menunggu saat dia datang sehingga saya dapat bersamanya. Kami selalu bergembira ketika sedang bersama.

Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya berpikir
bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya melupakannya.

Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari New York. Pengacara mengatakan
bahwa ia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dalam perjalanan ke
airport. Hati saya patah. Saya sangat terkejut akan kejadian ini . Sekarang
saya tahu... mengapa ia tidak muncul hari itu. Saya menangis semalaman.

Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa hal ini bisa
terjadi terhadap seseorang yang begitu baik seperti dia?

Saya mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke New York untuk pembacaan surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada keluarganya dan mantan istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan mantan istrinya lagi setelah terakhir kali saya bertemu pada pesta pernikahan. Dia menceritakan bagaimana mantan suaminya. Tapi suaminya selalu tampak tidak bahagia.

Apapun yang dia kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia seperti saat
pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan, satu-satunya yang
diberikan kepada saya adalah sebuah diary.

Itu adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan kepada
saya. Saya tak dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada saya?

Saya mengambilnya dan terbang kembali ke California.

Ketika saya di pesawat, saya teringat saat-saat indah yang kami miliki
bersama.

Saya mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami
berjumpa. Saya terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu bercerita
bahwa dia jatuh cinta kepada saya di hari ketika saya patah hati.

Tapi dia takut untuk mengatakannya kepada saya.

Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala perkataan
saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin mengatakannya kepada saya
berkali-kali, tetapi takut. Diary itu bercerita ketika dia ke New York dan
jatuh cinta dengan yang lain. Bagaimana dia begitu bahagia ketika bertemu
dan berdansa dengan saya di hari pernikahannya.

Dia berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.

Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan
istrinya. Saat-saat terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca huruf
demi huruf yang saya tulis kepadanya.

Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini saya akan mengatakan
kepadanya kalau saya mencintainya"

Itu adalah hari dimana dia terbunuh. Hari dimana pada akhirnya saya akan
mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya.

Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK MENGATAKAN
KEPADANYA" karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada..

Blog EntryUcapan Cinta TerakhirMar 23, '08 11:42 PM
for everyone
(Debbie Smoot - A Second Chicken Soup for the Woman's Soul)


Suami Carol tewas dalam kecelakaan mobil tahun lalu.
Jim, yang baru berumur lima puluh dua tahun, sedang mengemudikan mobil ke
rumah, dari kantornya. Yang menabraknya adalah seorang remaja yang mabuk berat.


Jim tewas seketika. Remaja itu masuk ruang gawat darurat, namun tidak sampai
dua jam di sana.

Ironisnya lagi, hari itu hari ulang tahun Carol yang kelima puluh, dan Jim
sudah membeli dua tiket pesawat ke Hawaii. Ia ingin memberi kejutan untuk
istrinya. Tapi ia justru tewas gara-gara seorang pengemudi mabuk.

"Bagaimana kau bisa mengatasi itu?" tanyaku pada Carol, setahun kemudian.

Mata Carol basah oleh air mata. Kupikir aku sudah salah bicara, tapi dengan
lembut ia meraih tanganku dan berkata, "Tidak apa-apa. Aku ingin
menceritakan padamu. Ketika aku dan Jim menikah, aku berjanji bahwa setiap
pagi, sebelum dia berangkat, aku mesti mengatakan bahwa aku mencintainya.
Dia juga membuat janji yang sama. Akhirnya hal itu menjadi semacam gurauan
di antara kami. Ketika anak-anak mulai lahir, sulit untuk menepati janji
itu. Aku ingat aku suka lari ke mobilnya sambil berkata, 'Aku mencintaimu',
dengan gigi terkatup rapat kalau aku sedang marah. Kadang aku mengemudi ke
kantornya untuk menaruh catatan kecil di mobilnya. Hal itu menjadi tantangan
yang lucu. Banyak kenangan kami tentang kebiasaan mengucapkan cinta ini
setiap hari, sepanjang kehidupan perkawinan kami."

Pada pagi Jim meninggal, ia menaruh kartu ulang tahun di dapur, lalu pergi
diam-diam ke mobilnya. Kudengar mesin mobilnya dinyalakan.

Jangan coba-coba kabur, ya, pikirku. Aku lari dan menggedor jendela
mobilnya, sampai ia membukanya.

"'Hari ini, pada ulang tahunku yang kelima puluh, Bapak James E. Garrett,
aku, Carol Garrett, ingin menyatakan bahwa aku mencintaimu.'

"Karena itulah aku bisa tabah menghadapi peristiwa itu. Karena aku tahu
bahwa kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Jim adalah 'Aku mencintaimu.'"

Blog EntryKetika Aku Sudah TuaMar 21, '08 9:15 PM
for everyone
Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.

Mengertilah,bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu,
ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau
dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu
kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.

Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan
mengejekku.

Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.

Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk
mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.

Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai
belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang
temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa
syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Blog EntryMengenal, Lebih Penting!Mar 18, '08 8:23 PM
for everyone

Alkisah, pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek -nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

 
Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata, mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

 
 Di sela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut.

 
Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

 
Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek: "Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu. Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun aku tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarangpun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini."

 
Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, "Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu. Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku."

 
Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis. Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian  undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

 
Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

 
Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing.


Blog EntryKetika Cinta ItuMar 14, '08 9:50 PM
for everyone
Ketika cinta itu indah

Mereka mencoba merasakannya

Ketika cinta itu semangat

Mereka mencoba mengobarkannya

Ketika cinta itu pengorbanan

Mereka mencoba memperjuangkannya

Ketika cinta itu penantian

Mereka mencoba menunggunya

Ketika cinta itu isyarat

Mereka mencoba mengartikannya

Ketika cinta itu pintu

Mereka mencoba mengetuknya

Ketika cinta itu menyapa

Mereka mencoba membalasnya

Ketika cinta itu perjalanan

Mereka mencoba menjajakinya

Ketika cinta itu kehidupan

Mereka mencoba menempuhinya

Ketika cinta itu kisah

Mereka mencoba bercerita

Ketika cinta itu nyanyian

Mereka mencoba menyenandungkannya

Ketika cinta itu puisi

Mereka mencoba menyairkannya

Ketika cinta itu sandiwara

Mereka mencoba memainkannya

Ketika cinta itu ungkapan

Mereka coba menyatakannya

Ketika cinta itu semu

Mereka mencoba membuat menjadi nyata

Ketika cinta itu khayalan

Mereka mencoba memimpikannya

Ketika cinta itu impian

Mereka mencoba meraihnya

Ketika cinta itu harapan

Mereka mencoba mewujudkannya

Ketika cinta itu cahaya

Mereka mencoba menyinarkannya

Ketika cinta itu benih

Mereka mencoba memekarkannya

Ketika cinta itu awan

Mereka mencoba menaunginya

Ketika cinta itu angin

Mereka mencoba menghembuskannya

Ketika cinta itu embun

Mereka mencoba menyegarkannya

Ketika cinta itu hujan

Mereka mencoba mengguyurkannya

Ketika cinta itu mentari

Mereka coba menghangatinya

Ketika cinta itu bintang

Mereka mencoba menyinarinya

Ketika cinta itu patung

Mereka mencoba memahatnya

Ketika cinta itu jasad

Mereka mencoba menjadi ruhnya

Ketika cinta itu sayap

Mereka mencoba menerbangkannya

Ketika cinta itu samudra

Mereka mencoba mengarunginya

Ketika cinta itu ruang

Mereka mencoba mengisinya

Ketika cinta itu komitmen

Mereka mencoba menjaganya

Ketika cinta itu batasan

Mereka mencoba melewatinya

Ketika cinta itu hampa

Mereka mencoba memenuhinya

Ketika cinta itu mengekang

Mereka mencoba mempertahankan

Ketika cinta itu jarak

Mereka mencoba mendekatkannya

Ketika cinta itu waktu

Mereka mencoba memanfaatkannya

Ketika cinta itu beku

Mereka mencoba mencairkannya

Ketika cinta itu layu

Mereka mencoba menyiraminya

Ketika cinta itu kegelapan

Mereka mencoba meneranginya

Ketika cinta itu misteri

Mereka mencoba menyelidikinya

Ketika cinta itu patah

Mereka mencoba menyambungkannya

Ketika cinta itu luka

Mereka mencoba menyembuhkannya

Ketika cinta itu airmata

Mereka mencoba mengusapnya

Ketika cinta itu masa lalu

Mereka mencoba mengenangnya

Ketika cinta itu hilang

Mereka mencoba mengikhlaskannya

Ketika cinta itu pilihan

Mereka mencoba memilihnya